Kimi Challenge : Emotional Healing Therapy
Alhamdulillah saya tiba di challenge terakhir untuk dapat bergabung dengan Komunitas Ibu Muda Indonesia (KIMI). Challenge kali ini cukup berat buat saya pribadi, karena saya harus mengorek dan memperbaiki sisi lain dari kehidupan saya sendiri. Bupon aci menawarkan 3 macam buku yang harus kita baca. Ternyata faktanya hasilnya tidak hanya sekedar baca saja, saya menjadi seperti terjebak pada masa di masa lalu.
Okei. Sebelumnya saya mau cerita dulu apa buku pilihan yang saya baca. Pilihan jatuh pada si buku merah dengan cover buku dua buah topeng sedih dan bahagia. Sebuah buku yang tidak terlalu tebal, namun mempunyai efek magis yang kuat. Sebuah buku karya pakar Self Healing berjudul Emotional Healing Therapy. Irma Rahayu.
Awal sekali saya memulai membaca buku ini, pada bab pertamapun saya udah merasa ngos-ngosan membacanya karena saya terlalu semangat mempraktekkan sebuah metode terapi. Saya yang pada saat itu merasa sedang dalam kekalutan dan kegalauan hidup, pada awal terapi saja sudah berhasil membuat saya nangis sejadi-jadinya. Rasa kesal pada pasangan yang selama ini saya pendam, rasanya saya tumpahkan sendiri di kamar.
Anyway, saya mau cerita dulu sedikit saja. Saya berjodoh dengan seseorang yang memiliki watak atau karakter yang cukup keras, cenderung kasar. Seseorang yang amat sangat tidak suka menghadapi orang yang marah. Saya sebagai istri bisa dikatakan istri yang teramat sabar, tepatnya saya sering memendam rasa marah terhadap suami. Suami saya tidak suka jika istri marah dengan mengomel depan dia, jika saya melakukan itu saya bisa di marahi balik sama suami saya. Atau bahkan jika saya berani berteriak ke suami saya, suami saya bisa sangat mungkin akan berlaku kasar pada saya. Hingga pada akhirnya saya selalu memendam rasa kesal dalam diri, setiap ada masalah saya selalu simpan dulu dan memilih waktu yang tepat untuk bicara. Kalian yang membaca, kira-kira paham ga kondisi yang saya alami? Jadi, pada saat melakukan terapi yang pertama terus terang, wajah suami yang saya liat di bayangan saya.
Lalu masuklan pada bab inner child. Pada bab ini, terus terang saya berusaha mengingat-ingat kejadian buruk apa yang pernah terjadi di masa kecil saya. Saya ingat-ingat perlakuan orang tua saya pada saya dulu. Dan hasilnya sepertinya memori baik yang saya ingat. Padahal sebenarnya cerita masa kecil saya lumayan loh. Saya ditakdikan Allah memiliki seorang Ayah yang cukup 'bandel' saat muda, dan cukup 'senang perempuan' hingga saat ini. Fyi, ayah saya juga sudah sejak lama berpoligami. Bahkan sebelumnya, ayah saya pernah berpacaran dengan tetangga saya di daerah rumah. Saya pernah juga mendapat teror dari dia dan omongan-omongan orang sekitar yang banyak menggosipkan keluarga saya. Tapi saya beruntung memiliki ibu yang hebat. DEMI ALLAH saya bilang dia hebat, tangguh! Dia mampu membangun kondisi rumah yang selalu hangat, seperti tidak terjadi apa-apa. Kami juga di didik untuk selalu hormat dan sayang kepada ayah saya apapun yang terjadi. Anehnya dari segala rentetan yang pernah terjadi, saya ga menilai itu sebagai sebuah inner child yang menggangu. Pada cerita ini saya ingin sekali sharing banyak!
Intisari dari semua lembar buku Emotional Healing Therapy yang saya baca adalah. Bagaimana saya harus lebih sayang, menghargai, memahami, memaafkan jiwa saya atau diri saya sendiri, yang terkadang sering kita abaikan. Saya menjadi lebih bisa mengontrol emosi saya sehari-hari. Tapi tentunya menurut saya, terapi yang paling ampuh adalah Sholat.
#kimichallenge
#kimi2020
#emotionalhealingtherapy

Komentar
Posting Komentar