Kesakitan ditengah Keceriaan


Barusan. Depan mata saya. Saya melihat seorang anak yang nyaris disiksa oleh ibu nya. Saya gatau kenapa awalnya anak itu nangis hingga ngamuk di arena permainan ini, hingga dia bisa membuat ibu nya semarah itu.

Di arena permainan seperti playgound rasanya sangat wajar ketika anak satu dengan anak lainnya saling berebut mainan. Saling bercanda. Malah kadang ada yang sampe berantem khas anak-anak. Karena memang jiwa mereka masih anak-anak. Maklumi saja!

Sampai mual perut saya ketika melihat adegan seorang ibu marah, lalu menggendong anaknya yang usianya masih sekitar seumuran keis. Anak itu digendong sambil menangis, sesekali si ibu mencubit paha anak itu hingga membuat si anak nangis lebih kencang lagi. Lalu saya kaget ketika si ibu menurunkan anaknya dari gendongannya dengan kasar sembari teriak "Diam!! Diam!!" agar si anak bisa diam. Hal yang mustahil menyuruh anak diam ketika si anak sedang diperlakukan kasar.


Jujur. Saya merasa melihat refleksindiri saya pada ibu-ibu itu. Saya, seorang ibu biasa yang juga bisa stress dan pusing ketika menghadapi anak ga jelas maunya apa. Nangis kejer di ruang publik. Kadang itu juga membuat saya susah mengendalikan emosi.

Saya juga seorang biasa. Saya paham betul apa yang dirasakan si ibu yang tadi. Saya tahu mungkin meski raga nya sedang membersamai anaknya bermain, namun pikirannya 'over thinking'. Persis kaya yang saya sering alami.


Seketika. Setelah melihat kejadian sangat tidak menyenangkan itu. Saya lari menghampiri keis. Saya peluk dia. Saya minta maaf sama dia. Keis yang memang usianya masih 3 tahun, saat ini sedang di titik sering tantrum, sering nangis karena kesalahan kecil saya yang saya sendiri ga paham. Keis yang kadang saya suka saya perlakukan kasar. Maafkan mami ya keis. Bantu mami untuk ga ulangi ya keis. *Nangis di pojokan*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

West Java Future Design

3 Kekuatan Maksimal dari Pond's Triple Glow Serum

Review Silicone Breast Pump MOOIMOM, Alat Tempur Menyusui Masa Kini!