Kita Sebagai Makhluk Mamalia
Sebelum memiliki anak yang
dilahirkan dari Rahim saya sendiri, saya tidak terlalu mengamati bagaimana suka
duka nya mengurus dan membesarkan anak. Saat dulu saya melihat sepupu saya yang
duluan memiliki anak juga saya tidak pernah menanyakan bagaimana rasanya punya
anak.
Sampai saatnya tiba. Saat
tidak lama setelah menikah, Alhamdulillah Allah karuniakan saya untuk bisa
merasakan hamil. Saya bersyukur kehamilan saya yang pertama sangat lah enjoy. Saya
masih bisa melakukan beragam aktifitas saya. Adapun saat-saat mual dan muntah,
biasanya terjadi di pagi hari tepatnya jika saya menggosok gigi saya. Saya selalu
merasakan mual dan muntah pada saat menggosok gigi di pagi hari. Uh kalo inget
itu, saya masih suka merasa mual.
Saya ingat, saya
pernah beberapa kali ngidam saat hamil anak pertama. Waktu itu yang paling saya
ingat adalah saya sangat mendambakan kue balok panas di awal-awal kehamilan. Namun
sayangnya keinginan saya itu ga terkabulkan, karena suami sedang berada jauh di
luar rumah.
Lambat laun saya mulai
belajar. Saya mengikuti beberapa kelas seminar tentang kehamilan, seminar tentang
kesehatan anak, sampai seminar tentang parenting yang sampai saat ini saya
sering ikuti. Kebetulan saya adalah pribadi yang lebih percaya apa kata hati
saya dalam melakukan apapun. Saat hamil dulu saya nyaris tidak pernah mencari
tahu ilmu atau info mengenai kehamilan. Kalaupun saya mengikuti kelas seminar,
saya lebih mencari teman baru dibandingan ilmunya. Please jangan ditiru ya,
hahaha. Saya kadang suka heran dengan banyaknya larangan ini itu serta campuran
mitos yang mengaitkan dengan kehamilan. Bahkan beberapa dokter ada juga yang
banyak memberikan larangan ini itu untuk ibu yang sedang hamil.
Pengalaman kehamilan
saya sangat simple. Diawal kehamilan, saya memilih kontrol kandungan di Rumah
Sakit Kesehatan Ibu dan Anak (RSKIA) Kota Bandung yang terletak tidak jauh dari
rumah mama saya, tepatnya di Astana Anyar. Saya juga tidak punya dokter khusus
yang selalu langganan mengecek kehamilan saya, saya berpikir semua dokter sama
saja. Mereka pasti sama-sama pintar ko, kacau banget pokoknya pemikiran saya. Tujuan
saya kontrol selain mengecek kesehatan anak yang ada dalam kandungan saya, yang
terpenting adalah bagian dimana sata ‘bertemu’ dengan calon anak saya saat USG.
Pemeriksaan di RSKIA Kota Bandung tidak berjalan lama, hanya sampai usia kandungan
6 bulan, karena saya memilih melahirkan di Klinik Bidan, jadi selanjutnya saya periksa
rutin di bidan.
Akhirnya hari
kelahiran pun tiba, saya tidak pernah punya pengalaman melahirkan namun hati saya
tenang. Saya percayakan diri saya ke tenaga para asisten bidan yang hari itu
berjaga. Fyi, ternyata di tempat-tempat klinik bidan itu, kita belum tentu akan
dibantu bidan yang bersangkutan saat melahirkan, melainkan kita akan cuman
dibantu oleh tenaga asisten si bidan nya itu.
Ternyata tahu ga? Setelah
Alhamdulillah lancar setelah melahirkan anak pertama, saya sadar bahwa pada
proses melahirkan, kita sendiri yang paling berperan penting atas diri kita dan
bayi kita. Kita yang merasakan mulesnya sendiri, kita yang mengejan sendiri menggunakan
tenaga kita sendiri. Tugas para asisten bidan itu, pada saat kita merasakan mules
hebat hanya menyemangati saja. Lalu lah pada saat sudah waktunya melahirkan,
mereka beraksi. Mereka membantu anak kita lahir dengan selamat, mereka memberikan
aba-aba agar kita mengejan dengan baik.
Cerita ini saya tulis
agar para ibu baru yang sedang hamil bisa tenang dan percaya bahwa kita akan baik-baik
saja. Kita ini tidak ada bedanya dengan semua makhluk hidup mamalia yang ada. Saya
pernah mengamati kucing saya dulu mau melahirkan, dia terlihat gelisah lalu
mencari tempat persembunyian agar pada saat melahirkan bisa tenang dan tidak
diganggu. Proses melahirkan itu merupakan proses alami setiap makhluk hidup,
dan semua wanita atau betina akan merasakannya. Tidak perlu terlalu banyak membaca pengetahuan-pengetahuan di luar
sana yang nantinya akan membuat kita parno sendiri. Allah pasti akan berikan kekuatanNya
kok.


Komentar
Posting Komentar